Friday, March 4, 2016

The Story Behind This Hijab


Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.
Hai, hai.. long time no see yaa. Haha. Sudah lama tidak tulis-menulis di blog, jadi kangen, bukan, bukan sama kamu, tapi sama tulisan sendiri. Hehe, gak deng. Kali ini, aku mau share pengalaman nih, berharapnya siapa tau ada yang dapet hidayah setelah baca tulisan ini, terutama buat  cewe-cewe yang belum berhijab :’) aaminn.

Aku perempuan, muslim. Alhamdulillah aku berhijab sejak masuk kuliah tahun 2013. Itu terjadi tidak begitu saja, aku sempat merasakan perang batin dengan diri sendiri. Ceritanya agak panjang sih, tapi ya semoga kamu gak cepat bosan membacanya :”). 

Keinginanku untuk berhijab sebenarnya sudah lama ada, namun masih saja ada yang menahanku untuk terus menunda. Alasannya masih ingin terlihat cantik dengan rambut terurai yang dilihat oleh semua orang, terutama laki-laki. Ingin terlihat cantik, apalagi ketika orang lain memuji sudah menjadi hal yang wajar bagi seorang perempuan, bukan?. Tapi, pujian-pujian dan penilaian orang lain itulah yang membutakanku terhadap perintah Allah untuk menutup aurat. Aku ingin terus memperbaiki penampilanku agar terlihat cantik, namun dibalik itu semua, aku  selalu merasa ada yang kurang dalam diriku.
Awalnya, aku memperhatikan teman dekatku yang baru saja berhijab di waktu SMK.  Dalam diriku bertanya-tanya tentang sahabatku itu “kamu yakin sudah berhijab? Kamu udah gak mau ikut terlihat cantik lagi? kamu tuh cantik banget sayang kalo sekarang udah ditutupi” aku heran melihatnya, karena menurutku dia cantik sekali, kenapa dia mau menutupi itu dan hal itu tidak kusampaikan padanya. 
Disaat teman-temanku mulai berhijab, aku masih belum sama sekali terpikir untuk berhijab. Hingga akhirnya aku mulai merasa sangat terganggu dengan seringnya “celotehan2 menggoda”dari laki-laki waktu aku berjalan sendirian maupun bersama teman, walaupun sebenernya secara tidak langsung justru akulah yang menggoda mereka dengan menampakkan auratku. Berbeda dengan temanku yang berhijab, meskipun laki-laki terkadang masih memperhatikan namun ucapan yang disampaikan berbeda, seperti “Assalamualaikum” “Assalamualaikum bu haji”. Mereka masih terlihat menggoda namun perbedaannya terlihat bahwa mereka lebih sopan terhadap perempuan yang berhijab dengan memberikan salam yang berisi doa. Dibandingkan yang tidak berhijab, sapaan yang diberikan tentu akan berbeda dan dengan kata-kata yang tidak disenangi.
Selain itu,  orang-orang terdekat pun selalu mendorongku untuk segera mengenakan hijab, seperti keluargaku. Dan hatiku belum juga tergerak. Entahlah, kalo kata orang-orang mungkin karena belum-dapet-hidayah. Kalimat itulah yang mungkin menjadi pembatas antara aku dengan hidayah, karena hidayah itu sebenernya dijemput bukan menunggu diberi. 
Dulu waktu masih jahiliyah, ilmu nya belum ada, jika ada laki-laki yang menggoda aku berpikir bahwa laki-laki lah yang salah, seharusnya mereka menghormati dan menghargai perempuan dengan tidak menggoda. Tapi sayangnya justru aku sendiri yang tidak mau menjaga kehormatan dan menghargai diri sendiri. 
Okeh, sekarang mulai masuk ke benang merahnya.. (oh, jadi daritadi belum mulai cerita intinya? *sigh). Yang barusan itu cuman pemanasan, sekarang udah panas? Yaudah kipasan dulu. Eh?, okeh fit, fokus fokus~.
Saat pertama kali ingin mengenakan hijab untuk seterusnya, aku sempat berpikir bagaimana kalau aku berhijab, tapi untuk acara atau saat-saat tertentu aku tidak perlu mengenakannya, sesuai keinginan. hmm, bener, kayak gitu aja. Aku berhijab tapi aku akan melepasnya jika sedang tidak ingin. Ya kalau istilah anak jaman sekarang “Kerdus” yang artinya kerudung dusta. Aku pun memantapkan hati untuk seperti itu. 
Namun Alhamdulillah lepas-pakai-hijab itu tidak benar-benar aku lakukan karena suatu alasan. Yaitu karena aku sangat memikirkan penilaian orang lain terutama soal penampilan. Yang pertama, mulanya saat ospek aku mulai mengenakan hijab karena memang diwajibkan dari kampus, dan pada suatu hari aku ingin keluar rumah tanpa hijab, orangtua ku menegur “masa kemaren pake sekarang enggak” jleb, dan bisa ditebak bagaimana kelanjutannya. Yang kedua adalah karena di media sosial beberapa temanku memberi pujian atas perubahan penampillanku “cantiik”, “Alhamdulillah sekarang udah berhijab ya, makin cantik”. Karena komentar-komentar itu aku merasa bukan hanya senang dan termotivasi tapi juga menjadi malu jika sewaktu-waktu ingin mengganti tampilan tanpa hijab.
Secara tidak sadar mungkin aku sudah menjemput hidayahku dengan berpikir untuk ber-Kerdus sebelumnya. Namun Allah mencoba meluruskan niatku melalui ucapan dan komentar orang lain, Allah membuat aku berpikir dan malu sebelum aku benar-benar melakukannya :’).
Dan setelah itu semua, Allah terus meyakinkanku atas  keputusan berhijabku. Salah satunya melalui buku yang dipinjami oleh seorang teman, buku Yuk, Berhijab! Karya Ustad Felix Siauw, banyak hikmah yang aku dapat setelah aku membacanya, yang membuatku yakin bahwa memang ini keputusan yang benar, salah satu perkataannya yang paling aku suka dari  ustad Felix Siauw adalah “lakuin dulu (berhijab), insya Allah keyakinan akan menyusul”. Ya memang benar, keyakinan itu menyusul setelah aku benar-benar berhijab. Seiring berjalannya waktu aku terus mencoba memperbaiki diri. 
Selain itu, Allah mempermudah hijrahku dengan menempatkanku di lingkungan orang-orang yang saleh yang mau membimbingku, meskipun aku sendiri belum saleh ya Alhamdulillah kecipratan ilmunya dan berusaha menerapkan ke diri sendiri juga. 
Dari cerita diatas , intinya aku berhijab bukan karena aku sudah baik, bukan. Justru karena aku belum baik dan lucunya sejak berhijab aku malah semakin menyesuaikan diri untuk menjadi baik, sesuai perintahNya, Insya Allah. Percaya deh, Allah punya caraNya sendiri untuk membimbing kita semua untuk balik ke jalanNya karena Allah maha Mengetahui segala isi hati manusia (iyalah, kan Allah penciptanya).
Dan aku yakin kamu baca tulisan ini bukan karena kebetulan, tapi Allah memang menggerakan hati kamu untuk menjemput hidayah. Selain itu, kalo kata sabda Rasulullah “seorang muslim belum sempurna imannya kalau belum mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri”. Aku nulis ini karena aku sayang kamu sebagai sesama perempuan muslim supaya kita terhindar dari api neraka.  Kalau enggak, mana mau aku meluangkan waktu cuman untuk nulis ini. Ya kan? Ya gak? Ya lah, Ya dong..
Begitu pun buat para ikhwan yang baca tulisan ini, meskipun tulisan ini lebih ditujukan untuk perempuan tetapi masih banyak hikmah lain yang bisa diambil, bukan, bukan ikutan pake hijab ya (yha). Salah satunya adalah sebagai sesama saudara muslim kita perlu saling menjaga kehormatan saudara kita dengan cara menjaga pandangan, meskipun saudari kita belum berhijab bukan berarti kita boleh memandangi auratnya  yang nampak dengan sengajabahkan sampai "menggodanya", tentu kita ga akan rela kalau itu terjadi pada adik/kakak perempuan atau ibu kita.

Udah nih, udah selesai, Alhamdulillah.
Semoga bermanfaat, semoga Allah selalu memudahkan kita dalam menjemput hidayah dan istiqomah di jalan yang diridhoi Nya, Aamiin :)
Wassalamualaikum warahmatullah wa barakatuh.

No comments:

Post a Comment