Bismillahirrahmanirrahim..
Dipuji, siapa
sih yang gak seneng dipuji? Setiap orang pasti senang apabila mendapat pujian, termasuk
saya. Bahkan gak jarang di jaman sekarang ada yang berlomba-lomba untuk menunjukkan
karya terbaik yang dimiliki agar mendapat pujian melalui postingan-postingan di
media sosial, mulai dari yang muda hingga lanjut usia pun ada. Mungkin,
mendapat pujian bukanlah tujuan utama ketika kita memposting, niat dan tujuan kita
berbeda-beda ketika ingin memposting sesuatu, dan insya Allah semua niat dan
tujuan tersebut adalah baik. Tapi dibalik niat baik tersebut tentu terkadang
akan terselip rasa ingin tahu bagaimana respon netizen lain saat melihat “karya”
kita, hal ini terlihat dari seberapa sering kita mengecek kembali postingan
tersebut untuk melihat komentar atau berapa jumlah “like” yang ada. Tenang, ini masih manusiawi kalau menurut teori Maslow, yaitu salah satu kebutuhan pokok manusia adalah
Self-Esteem yaitu rasa ingin dihargai dimana ketika seseorang sedang
mengaktulisasikan dirinya ia perlu mendapatkan pengakuan atas kemampuannya
tersebut dari orang lain, salah satunya ialah dengan pujian.
Tapii.. Dalam
pandangan islam tau gak sih temen-temen kalau dipuji juga bisa jadi boomerang
sendiri buat kita. Pujian juga bisa memberikan efek “ketagihan” pada orang yang
dipuji, hal ini tentu gak baik buat kita. Semakin sering dipuji maka kita akan
semakin terpancing untuk “memamerkan” yang lebih baik lagi atas apa yang telah kita
lakukan. Selain merasa senang, tentu
akan muncul rasa bangga terhadap diri sendiri atas apa yang sudah kita lakukan, apalagi ketika pujian-pujian itu
semakin tinggi, kita juga akan merasa tidak senang ketika dikritik/dicela orang lain. Kalo udah kayak gini, namanya kita mulai terserang dengan
penyakit hati yaitu ujub. Ketika kita
mulai menjadi bangga pada diri sendiri perlahan-lahan kita akan membandingkan
diri sendiri dengan orang lain dan yang terjadi selanjutnya adalah kita merasa
bahwa kita lebih baik/pandai daripada orang lain, yang biasa kita sebut dengan
apaa?? Iya, takabur atau sombong. Kesombongan ini tentu gak akan langsung terlihat orang
lain, diri sendiri pun terkadang tidak menyadarinya. Tapi, meskipun
begitu apa kita pikir itu luput dari penilaian Allah? Tentu enggak. Allah Maha
Mengetahui segala isi hati hambaNya, dan Allah benci orang yang sombong, gaes, sekecil apapun itu.
Dari Abu Ma’mar, ia berkata, “Ada seorang pria berdiri memuji salah seorang gubernur. Miqdad [ibnul Aswad] lalu menyiramkan pasir ke wajahnya dan berkata,
أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن نحثي في وجوه المداحين التراب
“Kami diperintahkan oleh Rasulullah untuk menyiramkan pasir ke wajah orang-orang yang memuji.” (Shahih) Ash Shahihah (912), [Muslim: 53-Kitab Az Zuhd, hal. 68]Dari Abu Bakrah, ia menceritakan bahwa ada seorang pria yang disebutkan di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang hadirin memuji orang tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda,
ويحك
قطعت عنق صاحبك، (يقوله مراراً)، إن كان أحدكم مادحاً لا محالة، فليقل:
أحسِبَ كذا وكذا- إن كان يرى أنه كذلك – وحسيبه الله، ولا يزكي على الله
أحداً
“Celaka engkau, engkau telah memotong leher temanmu (berulang kali beliau mengucapkan perkataan itu). Jika salah seorang di antara kalian terpaksa/harus memuji, maka ucapkanlah, ”’Saya kira si fulan demikian kondisinya.”
-Jika dia menganggapnya demikian-. Adapun yang mengetahui kondisi
sebenarnya adalah Allah dan janganlah mensucikan seorang di hadapan
Allah.” (Shahih): [Bukhari: 52-Kitab Asy Syahadat, 16-Bab Idza Dzakaro Rojulun Rojulan]
Hadis di atas menunjukkan bahayanya sebuah pujian, sehingga orang yang memuji pun perlu disadarkan.
Jadi, Pujian itu sebenernya
adalah ujian bagi kita, ujian keikhlasan dalam kebaikan. Seharusnya sebagai muslim dalam menebar kebaikan, dipuji atau dicela tuh bukan menjadi hal yang diperhitungkan ketika beramal karena kita melakukan itu semata-mata hanya mengharap ridho Allah. Adapun pujian yang datang, cukup ucapkan
Alhamdulillah, sesungguhnya
segala puji hanya milik Allah.
Hidup ini memang tentang menata hati, bagaimana kita mengatur niat kita dalam beramal, jangan sampai kebaikan yang kita sampaikan menjadi rusak hanya karena terselip kesombongan di dalamnya. Saya sebagai penulis pun tidak luput dari sifat sombong ini. Maka dari itu kita sama-sama perlu meluruskan niat supaya ikhlas dalam beramal, salah satunya dengan cara jangan termakan pujian dari orang lain, segera melupakan kebaikan yang sudah dilakukan, karena orang yang memuji kita tidak tahu tentang diri kita kecuali apa yang terlihat saja, yang tahu isi hati kita, ya hanya diri kita sendiri. Dan yang paling utama adalah berharap balasan hanya dari Allah di akhirat kelak :).
Referensi :
https://rumaysho.com/1993-bahaya-memuji-orang-lain-dan-gila-pujian.html
http://www.pendidikanmu.com/2015/05/pengertian-takabur-dan-contohnya.html
No comments:
Post a Comment