Sunday, May 10, 2015

Membedakan Ujian dengan Hukuman dari Allah



Assalamualaikum wr.wb

Sudah lama nggak sharing di  blog, akhirnya tangannya gatel juga pengen ngepost setelah dapet materi bagus. Hihi.  Sebelum baca blog ini, baca basmalah dulu ya biar ilmunya paham.
Bismillahirrahmanirrahim..

Kajian oleh : Nouman Ali Khan

Mungkin banyak orang bertanya-tanya “kenapa aku diberi cobaan seperti ini?”, “kenapa Allah melakukan ini  padaku ?”  “Apa yang aku lakukan sampai kesulitan ini terjadi padaku?”.  Ada pula yang bertanya “apakah ini terjadi karena ulahku sendiri atau ini adalah ini ujian dari Allah?
Lalu ada pula orang yang menyalahkan dirinya sendiri setelah tertimpa musibah. Seperti ketika seseorang membantah orangtuanya, setelah itu ia mengalami kecelakaan, kemudian ia menyadari ini pasti akibat perbuatan buruknya pada orangtuanya, maka ia merasa pantas menerima musibah tersebut.
Kebanyakan orang menghubungkan sesuatu yang tidak terlihat dengan apa yang terlihat. Pertanyaannya, bagaimana caranya agar kita mengetahui yang sebenarnya terjadi? 

Pada QS Ali Imran 165 :
Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: "Darimana datangnya (kekalahan) ini?" Katakanlah: "Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri". Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
Kisah dibalik turunnya ayat tersebut adalah bahwa pada saat peperangan Uhud, pasukan pemanah kaum muslimin sengaja meninggalkan posisi yang seharusnya mereka jaga, maka terjadilah kesulitan yang menimpa kaum muslimin.  Kemudian  kaum muslimin  bertanya-tanya “kenapa ini bisa terjadi? Kenapa Allah membiarkan ini terjadi?”, Allah menjawab bahwa ini karena kesalahan mereka sendiri, akibat ulah mereka sendiri. Di akhir ayat tertulis Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.Dengan kata lain, Allah bisa saja tidak membiarkan itu terjadi, jika Allah mau. Dia bisa saja menghentikan musibah itu, tapi Allah membiarkannya terjadi meskipun itu karena ulah kita sendiri.

 Dan di ayat lain, Allah menjelaskan pada QS At Taghaabun ayat 11 :
Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah…”.
Dari kedua ayat tersebut dapat diketahui bahwa musibah terjadi disebabkan karena 2 hal, yaitu karena akibat ulah manusia sendiri dan musibah yang terjadi karena izin Allah.
Misalnya, kita berkendara motor dengan kecepatan tinggi dan ugal-ugalan. Kemudian kita mengalami kecelakaan, kita tidak boleh mengatakan “Allah ingin aku mengalami kecelekaan, ini sudah takdir dari Allah, Allah pasti sedang menguji ku” atau “musibah ini datang dari Allah..”. Kita tidak boleh menyalahkan Allah atas musibah musibah yang menimpa kita yang jelas-jelas karena ulah, kelalaian, dan kekurangan kita sendiri. Allah membiarkan itu terjadi karena itu perbuatan yang kita pilih, dan kita harus bertanggung jawab atas apa yang kita pilih.

Di sisi lain ada pula musibah yang benar-benar di luar kendali kita, seperti memiliki cacat tubuh dari lahir,  kehilangan anggota keluarga, tertimpa bencana alam, kecelakaan yang disebabkan oleh kelalaian orang lain yang menyebabkan kita ikut terluka atau bahkan ketika tugas kuliah kita tidak diterima oleh dosen dikarenakan ada teman yang tidak tepat waktu mengumpulkan, dimana hal itu bukan sepenuhnya kesalahan kita. Hal-hal itu yang memang sebelumnya tidak dapat kita cegah dan memang diluar kendali diri kita, tidak ada yang dapat kita salahkan. Jika hal itu terjadi, yang perlu kita lakukan barulah yakin bahwa ini adalah ujian dari Allah, bukanlah hukuman.

Hukuman Allah berikan secara langsung hanya pada zaman Nabi, apabila suatu kaum melakukan dosa maka kaum tersebut akan segera menerima hukumannya. Namun di zaman sekarang, saat nabi sudah tidak ada, semua yang terjadi pada kita adalah ujian dari Allah. Tetapi apabila sesuatu yang buruk menimpa kita karena kelalaian kita sendiri, dimana kita bisa gambarkan sendiri “ya, karena aku berbuat ini maka  terjadilah hal itu”. Kita bisa menghubungkan kedua hal itu, sehingga kita tidak boleh menyalahkan Allah. Kita sudah tahu itu bukanlah ujian dari Allah.

Dari kedua ayat di atas, kita belajar bagaimana bertanggung jawab atas diri kita sendiri. Sebagai orang yang beriman kita perlu menjaga hubungan dengan Allah, kita tidak boleh menyalahkan Allah, karena memang Dia tidak pantas disalahkan. Kita perlu menyalahkan diri sendiri bila memang kita yang bertanggung jawab atas kesalahan yang kita buat. Sebaliknya, kita tidak perlu menyalahkan diri sendiri atas apa yang sudah di tangan Allah, seperti kondisi fisik yang kita miliki sejak lahir atau terlahir sebagai anak yatim/piatu. Itu ujian dari Allah, dan Allah menginginkan kita untuk bersabar.

Dari masalah ini, akan ada orang yang tidak paham atas keseimbangan ini. Yang pertama satu orang akan merasa puas diri (tidak bersalah) “ini terjadi karena Allah menginginkannya, aku hanya perlu diam saja dan sabar” padahal sebenarnya ia marah pada Allah karena memberikan kesulitan itu padanya. Di sisi lain, akan ada orang yang selalu marah dan putus asa pada dirinya sendiri “aku orang yang sangat buruk, makanya Allah membiarkan aku melakukan sesuatu tidak pernah baik, nilaiku jatuh, dll.. aku pantas mendapatkannya.” Ia terus menyalahkan dan membebani dirinya sendiri. Padahal Allah tidak ingin hambaNya merasa terbebani, Allah ingin kita untuk menumpahkan beban padaNya. Allah ingin kita berserah diri padaNya, agar Allah mencintai kita dan kita pun merasakan kecintaan tersebut pada diri kita.

Jadi, dari penjelasan kedua ayat tersebut kita diajarkan untuk mampu membedakan musibah yang kita hadapi, mana musibah akibat ulah sendiri dan mana musibah berupa ujian yang Allah berikan untuk mengangkat derajat kita.

Semoga Allah selalu memeberikan taufik dan hidayahNya kepada kita semua, dan kita bisa belajar menjadi muslim yang lebih mengenal Allah lebih baik lagi.
Aamiin. 

Barakallah fii umrik..
Wassalamualaikum wr.bw.


No comments:

Post a Comment