Assalamualaikum wr.wb
Sudah lama nggak
sharing di blog, akhirnya tangannya
gatel juga pengen ngepost setelah dapet materi bagus. Hihi. Sebelum baca blog ini, baca basmalah dulu ya
biar ilmunya paham.
Bismillahirrahmanirrahim..
Kajian oleh :
Nouman Ali Khan
Mungkin banyak
orang bertanya-tanya “kenapa aku diberi cobaan seperti ini?”, “kenapa Allah
melakukan ini padaku ?” “Apa yang aku lakukan sampai kesulitan ini
terjadi padaku?”. Ada pula yang bertanya
“apakah ini terjadi karena ulahku sendiri atau ini adalah ini ujian dari Allah?
Lalu ada pula
orang yang menyalahkan dirinya sendiri setelah tertimpa musibah. Seperti ketika
seseorang membantah orangtuanya, setelah itu ia mengalami kecelakaan, kemudian
ia menyadari ini pasti akibat perbuatan buruknya pada orangtuanya, maka ia
merasa pantas menerima musibah tersebut.
Kebanyakan orang
menghubungkan sesuatu yang tidak terlihat dengan apa yang terlihat.
Pertanyaannya, bagaimana caranya agar kita mengetahui yang sebenarnya terjadi?
Pada QS Ali
Imran 165 :
“Dan mengapa
ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah
menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan
Badar), kamu berkata: "Darimana datangnya (kekalahan) ini?"
Katakanlah: "Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri". Sesungguhnya Allah
Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
Kisah dibalik
turunnya ayat tersebut adalah bahwa pada saat peperangan Uhud, pasukan pemanah
kaum muslimin sengaja meninggalkan posisi yang seharusnya mereka jaga, maka
terjadilah kesulitan yang menimpa kaum muslimin. Kemudian kaum muslimin bertanya-tanya “kenapa ini bisa terjadi?
Kenapa Allah membiarkan ini terjadi?”, Allah menjawab bahwa ini karena
kesalahan mereka sendiri, akibat ulah mereka sendiri. Di akhir ayat tertulis Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.Dengan kata lain, Allah bisa saja
tidak membiarkan itu terjadi, jika Allah mau. Dia bisa saja menghentikan
musibah itu, tapi Allah membiarkannya terjadi meskipun itu karena ulah kita
sendiri.
Dan di ayat lain, Allah menjelaskan pada QS At
Taghaabun ayat 11 :
“Tidak ada suatu musibah pun yang
menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah…”.
Dari kedua ayat tersebut dapat
diketahui bahwa musibah terjadi disebabkan karena 2 hal, yaitu karena akibat
ulah manusia sendiri dan musibah yang terjadi karena izin Allah.
Misalnya, kita berkendara motor
dengan kecepatan tinggi dan ugal-ugalan. Kemudian kita mengalami kecelakaan,
kita tidak boleh mengatakan “Allah ingin aku mengalami kecelekaan, ini sudah
takdir dari Allah, Allah pasti sedang menguji ku” atau “musibah ini datang dari
Allah..”. Kita tidak boleh menyalahkan Allah atas musibah musibah yang menimpa
kita yang jelas-jelas karena ulah, kelalaian, dan kekurangan kita sendiri.
Allah membiarkan itu terjadi karena itu perbuatan yang kita pilih, dan kita
harus bertanggung jawab atas apa yang kita pilih.
Di sisi lain ada pula musibah yang
benar-benar di luar kendali kita, seperti memiliki cacat tubuh dari lahir, kehilangan anggota keluarga, tertimpa bencana
alam, kecelakaan yang disebabkan oleh kelalaian orang lain yang menyebabkan
kita ikut terluka atau bahkan ketika tugas kuliah kita tidak diterima oleh
dosen dikarenakan ada teman yang tidak tepat waktu mengumpulkan, dimana hal itu
bukan sepenuhnya kesalahan kita. Hal-hal itu yang memang sebelumnya tidak dapat
kita cegah dan memang diluar kendali diri kita, tidak ada yang dapat kita
salahkan. Jika hal itu terjadi, yang perlu kita lakukan barulah yakin bahwa ini
adalah ujian dari Allah, bukanlah hukuman.
Hukuman Allah berikan secara
langsung hanya pada zaman Nabi, apabila suatu kaum melakukan dosa maka kaum
tersebut akan segera menerima hukumannya. Namun di zaman sekarang, saat nabi
sudah tidak ada, semua yang terjadi pada kita adalah ujian dari Allah. Tetapi
apabila sesuatu yang buruk menimpa kita karena kelalaian kita sendiri, dimana
kita bisa gambarkan sendiri “ya, karena aku berbuat ini maka terjadilah hal itu”. Kita bisa menghubungkan
kedua hal itu, sehingga kita tidak boleh menyalahkan Allah. Kita sudah tahu itu
bukanlah ujian dari Allah.
Dari kedua ayat di atas, kita
belajar bagaimana bertanggung jawab atas diri kita sendiri. Sebagai orang yang
beriman kita perlu menjaga hubungan dengan Allah, kita tidak boleh menyalahkan
Allah, karena memang Dia tidak pantas disalahkan. Kita perlu menyalahkan diri
sendiri bila memang kita yang bertanggung jawab atas kesalahan yang kita buat. Sebaliknya,
kita tidak perlu menyalahkan diri sendiri atas apa yang sudah di tangan Allah,
seperti kondisi fisik yang kita miliki sejak lahir atau terlahir sebagai anak
yatim/piatu. Itu ujian dari Allah, dan Allah menginginkan kita untuk bersabar.
Dari masalah ini, akan ada orang
yang tidak paham atas keseimbangan ini. Yang pertama satu orang akan merasa
puas diri (tidak bersalah) “ini terjadi karena Allah menginginkannya, aku hanya
perlu diam saja dan sabar” padahal sebenarnya ia marah pada Allah karena
memberikan kesulitan itu padanya. Di sisi lain, akan ada orang yang selalu
marah dan putus asa pada dirinya sendiri “aku orang yang sangat buruk, makanya
Allah membiarkan aku melakukan sesuatu tidak pernah baik, nilaiku jatuh, dll..
aku pantas mendapatkannya.” Ia terus menyalahkan dan membebani dirinya sendiri.
Padahal Allah tidak ingin hambaNya merasa terbebani, Allah ingin kita untuk
menumpahkan beban padaNya. Allah ingin kita berserah diri padaNya, agar Allah
mencintai kita dan kita pun merasakan kecintaan tersebut pada diri kita.
Jadi, dari penjelasan kedua ayat tersebut
kita diajarkan untuk mampu membedakan musibah yang kita hadapi, mana musibah
akibat ulah sendiri dan mana musibah berupa ujian yang Allah berikan untuk
mengangkat derajat kita.
Semoga Allah selalu memeberikan taufik dan hidayahNya kepada kita semua, dan kita bisa belajar menjadi muslim yang lebih mengenal Allah lebih baik lagi.
Aamiin.
Aamiin.
Barakallah fii umrik..
Wassalamualaikum
wr.bw.
No comments:
Post a Comment