Saturday, October 15, 2016

Di Mata Allah



Di mata Allah…
Orang yang paling kuat bukanlah orang yang tidak bisa dikalahkan dalam kemampuan fisik tetapi ialah orang yang mampu menahan amarahnya
Di mata Allah..
Orang yang paling kaya bukanlah orang yang paling banyak hartanya, melainkan orang yang selalu merasa cukup dan bersyukur atas apa yang Allah berikan kepadanya, sekecil apapun itu..

Jika kamu terus berusaha memenuhi penilaian manusia terhadapmu maka yang akan kamu dapati hanya ketidakpuasan, kekecewaan, dan hilangnya rasa syukur  atas apa yang telah kamu miliki..
 
Ketika kamu berbuat baik, Allah tidak memintamu memikirkan penilaian orang lain terhadapmu. Jika itu baik di mata Allah maka hal itu sudah cukup bagimu, karena Dia-lah satu-satunya yang akan membalas segala perbuatan baikmu di dunia maupun akhhirat, bukan orang lain.. :)


#RenunganSingkat #SelfReminder :) 

Tuesday, March 15, 2016

Pujian adalah Ujian




Bismillahirrahmanirrahim..

Dipuji, siapa sih yang gak seneng dipuji? Setiap orang pasti senang apabila mendapat pujian, termasuk saya. Bahkan gak jarang di jaman sekarang ada yang berlomba-lomba untuk menunjukkan karya terbaik yang dimiliki agar mendapat pujian melalui postingan-postingan di media sosial, mulai dari yang muda hingga lanjut usia pun ada. Mungkin, mendapat pujian bukanlah tujuan utama ketika kita memposting, niat dan tujuan kita berbeda-beda ketika ingin memposting sesuatu, dan insya Allah semua niat dan tujuan tersebut adalah baik. Tapi dibalik niat baik tersebut tentu terkadang akan terselip rasa ingin tahu bagaimana respon netizen lain saat melihat “karya” kita, hal ini terlihat dari seberapa sering kita mengecek kembali postingan tersebut untuk melihat komentar atau berapa jumlah “like” yang ada. Tenang, ini masih manusiawi kalau menurut teori Maslow, yaitu salah satu kebutuhan pokok manusia adalah Self-Esteem yaitu rasa ingin dihargai dimana ketika seseorang sedang mengaktulisasikan dirinya ia perlu mendapatkan pengakuan atas kemampuannya tersebut dari orang lain, salah satunya ialah dengan pujian.

Tapii.. Dalam pandangan islam tau gak sih temen-temen kalau dipuji juga bisa jadi boomerang sendiri buat kita. Pujian juga bisa memberikan efek “ketagihan” pada orang yang dipuji, hal ini tentu gak baik buat kita. Semakin sering dipuji maka kita akan semakin terpancing untuk “memamerkan” yang lebih baik lagi atas apa yang telah kita lakukan. Selain merasa senang, tentu akan muncul rasa bangga terhadap diri sendiri atas apa yang sudah kita  lakukan, apalagi ketika pujian-pujian itu semakin tinggi, kita juga akan merasa tidak senang ketika dikritik/dicela orang lain. Kalo udah kayak gini, namanya kita mulai terserang dengan penyakit hati yaitu ujub. Ketika kita mulai menjadi bangga pada diri sendiri perlahan-lahan kita akan membandingkan diri sendiri dengan orang lain dan yang terjadi selanjutnya adalah kita merasa bahwa kita lebih baik/pandai daripada orang lain, yang biasa kita sebut dengan apaa?? Iya, takabur atau sombong. Kesombongan ini tentu gak akan langsung terlihat orang lain, diri sendiri pun terkadang tidak menyadarinya.  Tapi, meskipun begitu apa kita pikir itu luput dari penilaian Allah? Tentu enggak. Allah Maha Mengetahui segala isi hati hambaNya, dan Allah benci orang yang sombong, gaes, sekecil apapun itu. 


Dari Abu Ma’mar, ia berkata, “Ada seorang pria berdiri memuji salah seorang gubernur. Miqdad [ibnul Aswad] lalu menyiramkan pasir ke wajahnya dan berkata,
أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن نحثي في وجوه المداحين التراب
“Kami diperintahkan oleh Rasulullah untuk menyiramkan pasir ke wajah orang-orang yang memuji.” (Shahih) Ash Shahihah (912), [Muslim: 53-Kitab Az Zuhd, hal. 68]

Dari Abu Bakrah, ia menceritakan bahwa ada seorang pria yang disebutkan di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang hadirin memuji orang tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda,
ويحك قطعت عنق صاحبك، (يقوله مراراً)، إن كان أحدكم مادحاً لا محالة، فليقل: أحسِبَ كذا وكذا- إن كان يرى أنه كذلك – وحسيبه الله، ولا يزكي على الله أحداً
“Celaka engkau, engkau telah memotong leher temanmu (berulang kali beliau mengucapkan perkataan itu). Jika salah seorang di antara kalian terpaksa/harus memuji, maka ucapkanlah, ”’Saya kira si fulan demikian kondisinya.” -Jika dia menganggapnya demikian-. Adapun yang mengetahui kondisi sebenarnya adalah Allah dan  janganlah mensucikan seorang di hadapan Allah.” (Shahih): [Bukhari: 52-Kitab Asy Syahadat, 16-Bab Idza Dzakaro Rojulun Rojulan]



Hadis di atas menunjukkan bahayanya sebuah pujian, sehingga orang yang memuji pun perlu disadarkan.
Jadi, Pujian itu sebenernya adalah ujian bagi kita, ujian keikhlasan dalam kebaikan. Seharusnya sebagai muslim dalam menebar kebaikan, dipuji atau dicela tuh bukan menjadi hal yang diperhitungkan ketika beramal karena kita melakukan itu semata-mata hanya mengharap ridho Allah. Adapun pujian yang datang, cukup ucapkan Alhamdulillah,  sesungguhnya segala puji hanya milik Allah.

Hidup ini memang tentang menata hati, bagaimana kita mengatur niat kita dalam beramal, jangan sampai kebaikan yang kita sampaikan menjadi rusak hanya karena terselip kesombongan di dalamnya. Saya sebagai penulis pun tidak luput dari sifat sombong ini. Maka dari itu kita sama-sama perlu meluruskan niat supaya ikhlas dalam beramal, salah satunya dengan cara jangan termakan pujian dari orang lain, segera melupakan kebaikan yang sudah dilakukan, karena orang yang memuji kita tidak tahu tentang diri kita kecuali apa yang terlihat saja, yang tahu isi hati kita, ya hanya diri kita sendiri. Dan yang paling utama adalah berharap balasan hanya dari Allah di akhirat kelak :). 




Referensi :
https://rumaysho.com/1993-bahaya-memuji-orang-lain-dan-gila-pujian.html 
http://www.pendidikanmu.com/2015/05/pengertian-takabur-dan-contohnya.html

Friday, March 4, 2016

The Story Behind This Hijab


Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.
Hai, hai.. long time no see yaa. Haha. Sudah lama tidak tulis-menulis di blog, jadi kangen, bukan, bukan sama kamu, tapi sama tulisan sendiri. Hehe, gak deng. Kali ini, aku mau share pengalaman nih, berharapnya siapa tau ada yang dapet hidayah setelah baca tulisan ini, terutama buat  cewe-cewe yang belum berhijab :’) aaminn.

Aku perempuan, muslim. Alhamdulillah aku berhijab sejak masuk kuliah tahun 2013. Itu terjadi tidak begitu saja, aku sempat merasakan perang batin dengan diri sendiri. Ceritanya agak panjang sih, tapi ya semoga kamu gak cepat bosan membacanya :”). 

Keinginanku untuk berhijab sebenarnya sudah lama ada, namun masih saja ada yang menahanku untuk terus menunda. Alasannya masih ingin terlihat cantik dengan rambut terurai yang dilihat oleh semua orang, terutama laki-laki. Ingin terlihat cantik, apalagi ketika orang lain memuji sudah menjadi hal yang wajar bagi seorang perempuan, bukan?. Tapi, pujian-pujian dan penilaian orang lain itulah yang membutakanku terhadap perintah Allah untuk menutup aurat. Aku ingin terus memperbaiki penampilanku agar terlihat cantik, namun dibalik itu semua, aku  selalu merasa ada yang kurang dalam diriku.
Awalnya, aku memperhatikan teman dekatku yang baru saja berhijab di waktu SMK.  Dalam diriku bertanya-tanya tentang sahabatku itu “kamu yakin sudah berhijab? Kamu udah gak mau ikut terlihat cantik lagi? kamu tuh cantik banget sayang kalo sekarang udah ditutupi” aku heran melihatnya, karena menurutku dia cantik sekali, kenapa dia mau menutupi itu dan hal itu tidak kusampaikan padanya. 
Disaat teman-temanku mulai berhijab, aku masih belum sama sekali terpikir untuk berhijab. Hingga akhirnya aku mulai merasa sangat terganggu dengan seringnya “celotehan2 menggoda”dari laki-laki waktu aku berjalan sendirian maupun bersama teman, walaupun sebenernya secara tidak langsung justru akulah yang menggoda mereka dengan menampakkan auratku. Berbeda dengan temanku yang berhijab, meskipun laki-laki terkadang masih memperhatikan namun ucapan yang disampaikan berbeda, seperti “Assalamualaikum” “Assalamualaikum bu haji”. Mereka masih terlihat menggoda namun perbedaannya terlihat bahwa mereka lebih sopan terhadap perempuan yang berhijab dengan memberikan salam yang berisi doa. Dibandingkan yang tidak berhijab, sapaan yang diberikan tentu akan berbeda dan dengan kata-kata yang tidak disenangi.
Selain itu,  orang-orang terdekat pun selalu mendorongku untuk segera mengenakan hijab, seperti keluargaku. Dan hatiku belum juga tergerak. Entahlah, kalo kata orang-orang mungkin karena belum-dapet-hidayah. Kalimat itulah yang mungkin menjadi pembatas antara aku dengan hidayah, karena hidayah itu sebenernya dijemput bukan menunggu diberi. 
Dulu waktu masih jahiliyah, ilmu nya belum ada, jika ada laki-laki yang menggoda aku berpikir bahwa laki-laki lah yang salah, seharusnya mereka menghormati dan menghargai perempuan dengan tidak menggoda. Tapi sayangnya justru aku sendiri yang tidak mau menjaga kehormatan dan menghargai diri sendiri. 
Okeh, sekarang mulai masuk ke benang merahnya.. (oh, jadi daritadi belum mulai cerita intinya? *sigh). Yang barusan itu cuman pemanasan, sekarang udah panas? Yaudah kipasan dulu. Eh?, okeh fit, fokus fokus~.
Saat pertama kali ingin mengenakan hijab untuk seterusnya, aku sempat berpikir bagaimana kalau aku berhijab, tapi untuk acara atau saat-saat tertentu aku tidak perlu mengenakannya, sesuai keinginan. hmm, bener, kayak gitu aja. Aku berhijab tapi aku akan melepasnya jika sedang tidak ingin. Ya kalau istilah anak jaman sekarang “Kerdus” yang artinya kerudung dusta. Aku pun memantapkan hati untuk seperti itu. 
Namun Alhamdulillah lepas-pakai-hijab itu tidak benar-benar aku lakukan karena suatu alasan. Yaitu karena aku sangat memikirkan penilaian orang lain terutama soal penampilan. Yang pertama, mulanya saat ospek aku mulai mengenakan hijab karena memang diwajibkan dari kampus, dan pada suatu hari aku ingin keluar rumah tanpa hijab, orangtua ku menegur “masa kemaren pake sekarang enggak” jleb, dan bisa ditebak bagaimana kelanjutannya. Yang kedua adalah karena di media sosial beberapa temanku memberi pujian atas perubahan penampillanku “cantiik”, “Alhamdulillah sekarang udah berhijab ya, makin cantik”. Karena komentar-komentar itu aku merasa bukan hanya senang dan termotivasi tapi juga menjadi malu jika sewaktu-waktu ingin mengganti tampilan tanpa hijab.
Secara tidak sadar mungkin aku sudah menjemput hidayahku dengan berpikir untuk ber-Kerdus sebelumnya. Namun Allah mencoba meluruskan niatku melalui ucapan dan komentar orang lain, Allah membuat aku berpikir dan malu sebelum aku benar-benar melakukannya :’).
Dan setelah itu semua, Allah terus meyakinkanku atas  keputusan berhijabku. Salah satunya melalui buku yang dipinjami oleh seorang teman, buku Yuk, Berhijab! Karya Ustad Felix Siauw, banyak hikmah yang aku dapat setelah aku membacanya, yang membuatku yakin bahwa memang ini keputusan yang benar, salah satu perkataannya yang paling aku suka dari  ustad Felix Siauw adalah “lakuin dulu (berhijab), insya Allah keyakinan akan menyusul”. Ya memang benar, keyakinan itu menyusul setelah aku benar-benar berhijab. Seiring berjalannya waktu aku terus mencoba memperbaiki diri. 
Selain itu, Allah mempermudah hijrahku dengan menempatkanku di lingkungan orang-orang yang saleh yang mau membimbingku, meskipun aku sendiri belum saleh ya Alhamdulillah kecipratan ilmunya dan berusaha menerapkan ke diri sendiri juga. 
Dari cerita diatas , intinya aku berhijab bukan karena aku sudah baik, bukan. Justru karena aku belum baik dan lucunya sejak berhijab aku malah semakin menyesuaikan diri untuk menjadi baik, sesuai perintahNya, Insya Allah. Percaya deh, Allah punya caraNya sendiri untuk membimbing kita semua untuk balik ke jalanNya karena Allah maha Mengetahui segala isi hati manusia (iyalah, kan Allah penciptanya).
Dan aku yakin kamu baca tulisan ini bukan karena kebetulan, tapi Allah memang menggerakan hati kamu untuk menjemput hidayah. Selain itu, kalo kata sabda Rasulullah “seorang muslim belum sempurna imannya kalau belum mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri”. Aku nulis ini karena aku sayang kamu sebagai sesama perempuan muslim supaya kita terhindar dari api neraka.  Kalau enggak, mana mau aku meluangkan waktu cuman untuk nulis ini. Ya kan? Ya gak? Ya lah, Ya dong..
Begitu pun buat para ikhwan yang baca tulisan ini, meskipun tulisan ini lebih ditujukan untuk perempuan tetapi masih banyak hikmah lain yang bisa diambil, bukan, bukan ikutan pake hijab ya (yha). Salah satunya adalah sebagai sesama saudara muslim kita perlu saling menjaga kehormatan saudara kita dengan cara menjaga pandangan, meskipun saudari kita belum berhijab bukan berarti kita boleh memandangi auratnya  yang nampak dengan sengajabahkan sampai "menggodanya", tentu kita ga akan rela kalau itu terjadi pada adik/kakak perempuan atau ibu kita.

Udah nih, udah selesai, Alhamdulillah.
Semoga bermanfaat, semoga Allah selalu memudahkan kita dalam menjemput hidayah dan istiqomah di jalan yang diridhoi Nya, Aamiin :)
Wassalamualaikum warahmatullah wa barakatuh.