Assalamualaikum
warahmatullah wabarakatuh.
Hai,
hai.. long time no see yaa. Haha. Sudah lama tidak tulis-menulis di blog, jadi
kangen, bukan, bukan sama kamu, tapi sama tulisan sendiri. Hehe, gak deng. Kali
ini, aku mau share pengalaman nih, berharapnya siapa tau ada yang dapet hidayah
setelah baca tulisan ini, terutama buat cewe-cewe yang belum berhijab :’) aaminn.
Aku perempuan, muslim.
Alhamdulillah aku berhijab sejak masuk kuliah tahun 2013. Itu terjadi tidak
begitu saja, aku sempat merasakan perang batin dengan diri sendiri. Ceritanya
agak panjang sih, tapi ya semoga kamu gak cepat bosan membacanya :”).
Keinginanku untuk berhijab
sebenarnya sudah lama ada, namun masih saja ada yang menahanku untuk terus
menunda. Alasannya masih ingin terlihat cantik dengan rambut terurai yang
dilihat oleh semua orang, terutama laki-laki. Ingin terlihat cantik, apalagi
ketika orang lain memuji sudah menjadi hal yang wajar bagi seorang perempuan,
bukan?. Tapi, pujian-pujian dan penilaian orang lain itulah yang membutakanku
terhadap perintah Allah untuk menutup aurat. Aku ingin terus memperbaiki
penampilanku agar terlihat cantik, namun dibalik itu semua, aku selalu merasa ada yang kurang dalam diriku.
Awalnya, aku memperhatikan teman
dekatku yang baru saja berhijab di waktu SMK. Dalam diriku bertanya-tanya tentang sahabatku
itu “kamu yakin sudah berhijab? Kamu udah gak mau ikut terlihat cantik lagi?
kamu tuh cantik banget sayang kalo sekarang udah ditutupi” aku heran
melihatnya, karena menurutku dia cantik sekali, kenapa dia mau menutupi itu dan
hal itu tidak kusampaikan padanya.
Disaat teman-temanku mulai
berhijab, aku masih belum sama sekali terpikir untuk berhijab. Hingga akhirnya
aku mulai merasa sangat terganggu dengan seringnya “celotehan2 menggoda”dari
laki-laki waktu aku berjalan sendirian maupun bersama teman, walaupun sebenernya
secara tidak langsung justru akulah yang menggoda mereka dengan menampakkan
auratku. Berbeda dengan temanku yang berhijab, meskipun laki-laki terkadang
masih memperhatikan namun ucapan yang disampaikan berbeda, seperti “Assalamualaikum”
“Assalamualaikum bu haji”. Mereka masih terlihat menggoda namun perbedaannya terlihat
bahwa mereka lebih sopan terhadap perempuan yang berhijab dengan memberikan
salam yang berisi doa. Dibandingkan yang tidak berhijab, sapaan yang diberikan
tentu akan berbeda dan dengan kata-kata yang tidak disenangi.
Selain itu, orang-orang terdekat pun selalu mendorongku
untuk segera mengenakan hijab, seperti keluargaku. Dan hatiku belum juga
tergerak. Entahlah, kalo kata orang-orang mungkin karena belum-dapet-hidayah.
Kalimat itulah yang mungkin menjadi pembatas antara aku dengan hidayah, karena
hidayah itu sebenernya dijemput bukan menunggu diberi.
Dulu waktu masih jahiliyah, ilmu
nya belum ada, jika ada laki-laki yang menggoda aku berpikir bahwa laki-laki
lah yang salah, seharusnya mereka menghormati dan menghargai perempuan dengan
tidak menggoda. Tapi sayangnya justru aku sendiri yang tidak mau menjaga
kehormatan dan menghargai diri sendiri.
Okeh, sekarang mulai masuk ke
benang merahnya.. (oh, jadi daritadi
belum mulai cerita intinya? *sigh). Yang barusan itu cuman pemanasan,
sekarang udah panas? Yaudah kipasan dulu. Eh?, okeh fit, fokus fokus~.
Saat pertama kali ingin
mengenakan hijab untuk seterusnya, aku sempat berpikir bagaimana kalau aku
berhijab, tapi untuk acara atau saat-saat tertentu aku tidak perlu
mengenakannya, sesuai keinginan. hmm,
bener, kayak gitu aja. Aku berhijab tapi aku akan melepasnya jika sedang
tidak ingin. Ya kalau istilah anak jaman sekarang “Kerdus” yang artinya
kerudung dusta. Aku pun memantapkan hati untuk seperti itu.
Namun Alhamdulillah
lepas-pakai-hijab itu tidak benar-benar aku lakukan karena suatu alasan. Yaitu
karena aku sangat memikirkan penilaian orang lain terutama soal penampilan. Yang
pertama, mulanya saat ospek aku mulai mengenakan hijab karena memang diwajibkan
dari kampus, dan pada suatu hari aku ingin keluar rumah tanpa hijab, orangtua
ku menegur “masa kemaren pake sekarang enggak” jleb, dan bisa ditebak
bagaimana kelanjutannya. Yang kedua adalah karena di media sosial beberapa
temanku memberi pujian atas perubahan penampillanku “cantiik”, “Alhamdulillah
sekarang udah berhijab ya, makin cantik”. Karena komentar-komentar itu aku merasa
bukan hanya senang dan termotivasi tapi juga menjadi malu jika sewaktu-waktu
ingin mengganti tampilan tanpa hijab.
Secara tidak sadar mungkin aku sudah
menjemput hidayahku dengan berpikir untuk ber-Kerdus sebelumnya. Namun Allah
mencoba meluruskan niatku melalui ucapan dan komentar orang lain, Allah membuat
aku berpikir dan malu sebelum aku benar-benar melakukannya :’).
Dan setelah itu semua, Allah
terus meyakinkanku atas keputusan
berhijabku. Salah satunya melalui buku yang dipinjami oleh seorang teman, buku Yuk, Berhijab! Karya Ustad Felix Siauw,
banyak hikmah yang aku dapat setelah aku membacanya, yang membuatku yakin bahwa
memang ini keputusan yang benar, salah satu perkataannya yang paling aku suka
dari ustad Felix Siauw adalah “lakuin
dulu (berhijab), insya Allah keyakinan akan menyusul”. Ya memang benar,
keyakinan itu menyusul setelah aku benar-benar berhijab. Seiring berjalannya
waktu aku terus mencoba memperbaiki diri.
Selain itu, Allah mempermudah
hijrahku dengan menempatkanku di lingkungan orang-orang yang saleh yang mau
membimbingku, meskipun aku sendiri belum saleh ya Alhamdulillah kecipratan
ilmunya dan berusaha menerapkan ke diri sendiri juga.
Dari cerita diatas , intinya aku
berhijab bukan karena aku sudah baik, bukan. Justru karena aku belum baik dan lucunya
sejak berhijab aku malah semakin menyesuaikan diri untuk menjadi baik, sesuai
perintahNya, Insya Allah. Percaya deh, Allah punya caraNya sendiri untuk
membimbing kita semua untuk balik ke jalanNya karena Allah maha Mengetahui
segala isi hati manusia (iyalah, kan Allah penciptanya).
Dan aku yakin kamu baca tulisan
ini bukan karena kebetulan, tapi Allah memang menggerakan hati kamu untuk
menjemput hidayah. Selain itu, kalo kata sabda Rasulullah “seorang muslim belum sempurna imannya kalau belum mencintai saudaranya
seperti ia mencintai dirinya sendiri”. Aku nulis ini karena aku sayang kamu
sebagai sesama perempuan muslim supaya kita terhindar dari api neraka. Kalau enggak, mana mau aku meluangkan waktu cuman
untuk nulis ini. Ya kan? Ya gak? Ya lah, Ya dong..
Begitu pun buat para ikhwan yang baca tulisan ini, meskipun tulisan ini lebih ditujukan untuk perempuan tetapi masih banyak hikmah lain yang bisa diambil, bukan, bukan ikutan pake hijab ya (yha). Salah satunya adalah sebagai sesama saudara muslim kita perlu saling menjaga kehormatan saudara kita dengan cara menjaga pandangan, meskipun saudari kita belum berhijab bukan berarti kita boleh memandangi auratnya yang nampak dengan sengajabahkan sampai "menggodanya", tentu kita ga akan rela kalau itu terjadi pada adik/kakak perempuan atau ibu kita.
Udah nih, udah selesai,
Alhamdulillah.
Semoga bermanfaat, semoga Allah selalu memudahkan kita dalam menjemput hidayah dan istiqomah di jalan yang diridhoi Nya, Aamiin :)
Wassalamualaikum
warahmatullah wa barakatuh.