Assalamualaikumwarahmatullahiwabarakatuh..
“subhanallah,
bagus banget pemandangannya…”
Aku rasa kalimat
di atas sudah tidak asing lagi di telinga kita, atau bahkan di mulut kita
sendiri. sebenarnya, kita tau gak sih arti dari kalimat itu? Apa bener udah
sesuai dengan yang kita maksudkan? atau kita cuman ikut-ikutan orang aja,
karena banyak orang sering bilang begitu maka itulah makna yang dianggap benar.
Hehehe.
Sebagai muslim,
harusnya kita tau setiap makna dari apa yang kita ucapkan terutama jika sudah
menyangkut agama. Dan kalimat yang aku tulis di awal tulisan ini merupakan
salah satu contoh kesalahan dalam menggunakan kalimat islami. Makna dari
kalimat itu tidak sesuai dengan arti yang sebenarnya.
Sebagian dari
kita atau kita semua sering terbalik dalam menggunakan kalimat Subhanallah dan
masya Allah. Kita mengucapkan Subhanallah ketika melihat hal yang indah-indah.
Sedangkan masya Allah diucapkan ketika melihat kejadian-kejadian yang tidak
baik atau buruk. Sebenarnya penggunaan kalimat tersebut terbalik, kita
dianjurkan untuk mengucapkan subhanallah ketika melihat sesuatu atau kejadian
yang buruk. Ketika kita mengucapkan Subhanallah itu berarti kita menetapkan
bahwa Allah Maha Suci dari keburukan tersebut. Sedangkan masya Allah diucapkan
ketika kita menunjukkan ekpresi kagum terhadap sesuatu yang indah atau perkara
yang baik yang terjadi atas izin Allah.
SUMBER : Ustadz Abu Umar Basyier di Buku
Prahara Cinta hal. 173, Penerbit : Shafa Publika
Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Tirmizi,
dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda : "Suatu hari aku berjunub dan
ternampak Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berjalan bersama para
sahabat, lantas aku menjauhi mereka dan pulang untuk mandi junub, setelah itu
aku datang menemui Rasulullah. Baginda bersabda :
Wahai Abu Hurairah, mengapakah engkau
melarikan diri tatkala kami datang? Aku menjawab : Wahai Rasulullah, aku kotor (berjunub) dan
aku tidak selesa untuk bertemu kalian. Rasulullah bersabda : “Subhanallah!! sesungguhnya mukmin tidak
najis"
Beberapa Firman Allah subhanahu wa ta'ala :
“Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya
kemudian Allah berfirman kepada malaikat : ”Apakah mereka ini dahulu menyembah
kamu? Malaikat-malaikat itu menjawab :
“Maha Suci Engkau. Engkaulah pelindung kami, bukan mereka : bahkan mereka telah menyembah jin :
kebanyakan mereka beriman kepada jin itu.”
(QS. Saba’ 34 : 40-41)
Katakanlah :
“Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak
(kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada
termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS.
Yusuf 12 : 108)
“Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu
mendengar berita bohong itu :
“Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita
memperkatakan ini. Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang
besar”. (QS. An Nuur 24 : 16)
“Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala
kamu memasuki kebunmu “MAA SYAA ALLAH,
LAA QUWWATA ILLAA BILLAH” (Sungguh atas
kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan
Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan
keturunan”. (QS. Al Kahfi [18]: 39)
Jadi “Subhanallah” dilekatkan dalam makna
“turun”, yang kemudian sesuai dengan kebiasaan
orang dalam Bahasa Arab. Secara umum; yakni menggunakannya untuk mengungkapkan keprihatinan atas suatu hal yang kurang baik di mana tak pantas.
orang dalam Bahasa Arab. Secara umum; yakni menggunakannya untuk mengungkapkan keprihatinan atas suatu hal yang kurang baik di mana tak pantas.
Demikian dalam kebiasaan lisan berbahasa Arab
: mereka mengucapkan “Masya Allah” pada
keadaan juga sosok yang kebaikannya mengagumkan.
keadaan juga sosok yang kebaikannya mengagumkan.