Tuesday, February 21, 2017

BERSYUKUR AJA GAK CUKUP




Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamualaikum saudara muslimku yang dirahmati oleh Allah SWT, hari ini saya mau berbagi sedikit pelajaran nih mumpung masih mood kudu segera ditulis, hehe. Tentang apa? Tentang syukur. Yeay. 

Bagi kita semua kata syukur bukan sesuatu yang asing lagi, kan?. Syukur merupakan suatu ungkapan rasa terima kasih kita karena telah menerima nikmat baik dalam bentuk niat, lisan maupun perbuatan. 

Kenapa sih kita harus bersyukur?

Tentu karena sudah mendapat nikmat makanya kita harus berterimakasih. Pada siapa? Ya pada yang memberi, siapapun itu, apakah orang lain, teman, keluarga, dan yang paling utama adalah pada yang Maha Pemberi.  

Bersyukur itu penting, karena syukur merupakan adab di dalam kehidupan agar kita bisa diterima di lingkungan. Ketika kita ditolong dan berterimakasih pada manusia, manusia akan senang karena merasa usahanya dihargai, dan yang diminta tolong pun mungkin tidak akan sungkan untuk memberi pertolongan lagi. Begitupun sebaliknya, kita membantu orang lain dengan sepenuh hati tetapi yang dibantu justru tidak berterimakasih, apa yang kita rasakan? Pada akhirnya memang mencoba ikhlas, tapi mungkin akan ada rasa tidak senang ketika diperlakukan seperti itu.

Bagaimana dengan Allah? Masha Allah, ketika bersyukur padaNya, Allah bukan cuma senang tetapi juga akan menambah nikmat-Nya. Seberapa banyak? Wallahua’lam, ga ada yang bisa mengukur ketika Allah sudah berkehendak memberi nikmatNya. Perlu kita pahami bahwa ga selalu dalam bentuk “fisik” bisa jadi Allah tambah nikmatNya dalam bentuk berkah, ilmu, sabar, dll.

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". Q.S Ibrahim : 7

Kalau tadi kita sebagai manusia aja ga seneng ketika diingkari nikmatnya, gimana dengan Allah?
Ketika kita tidak bersyukur yang terjadi adalah kita akan menjadi kufur di mata Allah karena mengingkari nikmatNya. Allah tidak langsung menghukum tapi Allah memperingatkan kita bahwa azabNya amatlah pedih. Saking bahayanya sifat kufur ini Allah abadikan kisah seorang hambaNya yang kufur atas nikmatNya sebagai pelajaran. Siapa? Dialah Qarun. Seorang hamba yang hidup di zaman nabi Musa a.s, ia diberikan nikmat berlimpah namun enggan bersyukur bahkan ia menyombongkan diri karena merasa harta yang ia miliki dikarenakan ilmu yang ia pelajari, dan ia lupa bahwa Allah yang memberikan semua itu. Alhasil azab di dunia menimpanya, dimana ia dibenamkan ke dalam bumi beserta hartanya. (Oh jadi cerita harta karun itu kisah nyata? Yes saya juga baru tau. haha). [Al Qashash ayat 75-81]

Kapan kita harus bersyukur?

Kita cenderung bersyukur ketika mendapatkan nikmat yang membuat hati senang dan yang diharapkan kehadirannya. Nikmat yang hadir dalam bentuk kesenangan seperti dapet uang, baju baru, naik jabatan, diterima di universitas idaman, menang lomba, liburan bareng keluarga, dan lain-lain. Sedangkan sebenarnya nikmat Allah bukan itu saja. Hal-hal yang sudah ada di hadapan kita juga termasuk nikmat, nikmat yang Allah kasih secara cuma-cuma tanpa kita minta sebelumnya. Seperti, nikmat sehat (kecuali kalo lagi sakit ye kann baru minta :p), punya penglihatan yang sempurna, anggota tubuh yang lengkap, tempat tinggal yang aman, punya kamar sendiri, punya temen yang baik, bisa makan teratur 3x sehari, bisa tidur pules, dan masih banyak yang  lain kalo kita mau berpikir. Hal-hal itu kadang terlihat sepele karena kita terima secara cuma-cuma, tapi perlu kita sadari bahwa itu juga nikmat Allah yang patut disyukuri.

Selain itu, kita juga perlu bersyukur atas nikmat yang tidak disadari tetapi selalu dirasakan. Apa tuh? Mungkin kita menganggapnya bukan nikmat tapi justru musibah atau ujian. Contohnya lapar, lelah, sakit, kehilangan sesuatu yang dicinta. Kok bisa lapar, lelah, dan sakit, kehilangan sesuatu yang dicinta termasuk nikmat? 
Bisa dong, coba pikir, ketika kita lapar makanan apapun pasti terasa lebih nikmat kan. Ketika lelah, Allah jadikan istirahat kita dengan tidur yang nyenyak dan dosa-dosa kita dihapus karena rasa lelah itu. Ketika sakit, kita akan cenderung banyak berdoa karena sadar kalau tidak berdaya, berarti Allah sedang kasih kesempatan buat kita untuk mengingat lagi kuasaNya dan dosa-dosa juga diampuni.
Kehilangan sesuatu yang dicinta. Pastilah merasa sedih karena itu ujian dari Allah. Tapi percaya deh, kalau kita mau mencoba sabar melewati ujian itu, Allah pasti akan tingkatkan keimanan kita dan ada sesuatu yang lebih baik sebagai gantinya yang telah Allah siapkan, insya Allah. 

Allah SWT berfirman (yang artinya), “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (para rasul) kepada umat-umat sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan kesengsaraan dan kemelaratan agar mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri.” (QS. Al An’am: 42)

Kemudian dalam surat Al-Anfal ayat 33, Allah SWT berfirman bahwa,
"Tidaklah Allah mengadzab mereka, selama mereka memohon ampun (beristighfar kepada Allah)."

Bencana senantiasa menimpa seorang mukmin dan mukminah pada dirinya, anaknya, dan hartanya sampai ia berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak ada kesalahan pada dirinya.” (HR. At Tirmidzi)

Sesungguhnya besarnya pahala itu berbanding lurus dengan besarnya ujian. Dan sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka. Siapa yang ridha, baginya ridha(Nya), namun siapa yang murka, maka baginya kemurkaan(Nya).” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).
  
Semua cobaan yang kita rasa itu juga nikmat hanya beda tampilan. Apa yang bisa kita nikmati? yang bisa kita nikmati adalah prosesnya dengan  sabar dan bersyukur. Mungkin kita merasa menderita tapi disisi lain justru itu jalan yang ditunjukkan Allah untuk mendekatkan diri padaNya dan membuka pintu-pintu hidayahNya. Nikmat yang ketiga ini memang berat untuk disadari apalagi disyukuri. Logikanya bagaimana mungkin kita merasa senang dan menderita di waktu yang bersamaan dengan penyebab yang sama? Hmmm. Kalau kita ga beriman mungkin kita akan berpikir seperti itu. Tapi kita mukmin, setiap mukmin harus yakin bahwa segala yang Allah berikan itu ga ada yang sia-sia. Termasuk setiap cobaan yang menimpa hambaNya. Allah mau menghapus dosa-dosa kita, meninggikan derajat kita dan memberikan pahala melalui cobaan tersebut.


Ya intinya, mau seneng mau susah sebagai muslim kita harus pandai-pandai bersyukur dalam segala kondisi. Walaupun mendeskripsikannya tidak semudah mempraktekannya, yuk belajar dari sekarang. Mulai bersyukur dari yang kecil. Karena dengan mensyukuri dari hal yang kecil kita akan mudah mensyukuri nikmat yang besar. Hal yang kecil seperti apa sih?

Dulu, kalo laper bilangnya "duh, laper...", sekarang bilang "alhamdulillah, laper..". Dulu kalo capek bilang “capek banget, parah..” sekarang bilangnya “Alhamdulillah capek, malem ini bisa tidur pules..”. Itu contoh kecil saja, silakan mulai dengan versinya masing-masing :3

Dan yang gak kalah penting juga, sesuai dengan judulnya "bersyukur aja gak cukup". Kita perlu mengiringi sikap syukur ini dengan berprasangka baik pada Allah. Kita harus yakin bahwa Allah akan menambah nikmatNya, keberkahanNya, RidhoNya, dan terus memberikan yang terbaik untuk kita karena Allah pasti menepati janjiNya dan selalu bersikap seperti bagaimana prasangka hamba terhadapNya. Maka dari itu barulah syukurnya sempurna di mata Allah.

Mudah-mudahan kita bisa menjadi hambaNya yang pandai bersyukur. Aamiin.

Kalau ada kesalahan dari pembahasan ini, itu murni dari saya, dan kebenaran hanya milik Allah SWT. Syukur-syukur salahnya ada yang mau perbaiki jadi bisa diskusi bareng ye kan. *wink

Semoga Allah senantiasa merahmati kita dan memberikan ilmu yang bermanfaat. Barakallah fiikum.
Sekian.
Wassalamualaikum :)

Friday, February 17, 2017

Love Letter From a Husband-To-be

A half year ago i got a message from someone, it's love letter. I've read it.  it was touching and feel like pure thought from his heart. It's not for me by the way but yes it was just sent to me (apasih). I think that it would be good for you to read this love letter too. Hope you enjoy it *wink







Love letter ini mungkin mewakili ungkapan perasaan sebagian ikhwan di luar sana, tapi aku nge-share ini bukan berarti ini bisa dijadikan contoh untuk nulis surat cinta beneran ke akhwat nya yaa.. hahaha.  Ikhwan yang "beneran" soleh ga akan kasih love letter nya langsung ke akhwat meskipun isinya Subhanallah keliatan syar'i, adem, menjanjikan banget atau apalah itu, justru yang kayak gitu keliatan modusnya.. Modus ikhwan genit level tinggi.


Tapi bukan berarti aku mengira yang nulis love letter di atas itu modus ya, sama sekali enggak. Mungkin dia sengaja menulis itu untuk dibaca semua orang, terutama anak muda, supaya ikhwan lain tau bagaimana ia harus bersikap ketika "jatuh cinta" dan supaya para akhwat lain ga perlu khawatir soal bagaimana jodoh soleh yang mereka nantikan. 

Karena seorang yang soleh pasti dan harus tau cara mengungkapkan dan menjaga cintanya dengan benar, insya Allah.

NB: aku nulis ini bukan karena sudah benar, apalagi salehah. Nulis ini seperti nulis tamparan untuk diri sendiri yang masih lalai menjaga cinta dariNya.

Saturday, October 15, 2016

Di Mata Allah



Di mata Allah…
Orang yang paling kuat bukanlah orang yang tidak bisa dikalahkan dalam kemampuan fisik tetapi ialah orang yang mampu menahan amarahnya
Di mata Allah..
Orang yang paling kaya bukanlah orang yang paling banyak hartanya, melainkan orang yang selalu merasa cukup dan bersyukur atas apa yang Allah berikan kepadanya, sekecil apapun itu..

Jika kamu terus berusaha memenuhi penilaian manusia terhadapmu maka yang akan kamu dapati hanya ketidakpuasan, kekecewaan, dan hilangnya rasa syukur  atas apa yang telah kamu miliki..
 
Ketika kamu berbuat baik, Allah tidak memintamu memikirkan penilaian orang lain terhadapmu. Jika itu baik di mata Allah maka hal itu sudah cukup bagimu, karena Dia-lah satu-satunya yang akan membalas segala perbuatan baikmu di dunia maupun akhhirat, bukan orang lain.. :)


#RenunganSingkat #SelfReminder :) 

Tuesday, March 15, 2016

Pujian adalah Ujian




Bismillahirrahmanirrahim..

Dipuji, siapa sih yang gak seneng dipuji? Setiap orang pasti senang apabila mendapat pujian, termasuk saya. Bahkan gak jarang di jaman sekarang ada yang berlomba-lomba untuk menunjukkan karya terbaik yang dimiliki agar mendapat pujian melalui postingan-postingan di media sosial, mulai dari yang muda hingga lanjut usia pun ada. Mungkin, mendapat pujian bukanlah tujuan utama ketika kita memposting, niat dan tujuan kita berbeda-beda ketika ingin memposting sesuatu, dan insya Allah semua niat dan tujuan tersebut adalah baik. Tapi dibalik niat baik tersebut tentu terkadang akan terselip rasa ingin tahu bagaimana respon netizen lain saat melihat “karya” kita, hal ini terlihat dari seberapa sering kita mengecek kembali postingan tersebut untuk melihat komentar atau berapa jumlah “like” yang ada. Tenang, ini masih manusiawi kalau menurut teori Maslow, yaitu salah satu kebutuhan pokok manusia adalah Self-Esteem yaitu rasa ingin dihargai dimana ketika seseorang sedang mengaktulisasikan dirinya ia perlu mendapatkan pengakuan atas kemampuannya tersebut dari orang lain, salah satunya ialah dengan pujian.

Tapii.. Dalam pandangan islam tau gak sih temen-temen kalau dipuji juga bisa jadi boomerang sendiri buat kita. Pujian juga bisa memberikan efek “ketagihan” pada orang yang dipuji, hal ini tentu gak baik buat kita. Semakin sering dipuji maka kita akan semakin terpancing untuk “memamerkan” yang lebih baik lagi atas apa yang telah kita lakukan. Selain merasa senang, tentu akan muncul rasa bangga terhadap diri sendiri atas apa yang sudah kita  lakukan, apalagi ketika pujian-pujian itu semakin tinggi, kita juga akan merasa tidak senang ketika dikritik/dicela orang lain. Kalo udah kayak gini, namanya kita mulai terserang dengan penyakit hati yaitu ujub. Ketika kita mulai menjadi bangga pada diri sendiri perlahan-lahan kita akan membandingkan diri sendiri dengan orang lain dan yang terjadi selanjutnya adalah kita merasa bahwa kita lebih baik/pandai daripada orang lain, yang biasa kita sebut dengan apaa?? Iya, takabur atau sombong. Kesombongan ini tentu gak akan langsung terlihat orang lain, diri sendiri pun terkadang tidak menyadarinya.  Tapi, meskipun begitu apa kita pikir itu luput dari penilaian Allah? Tentu enggak. Allah Maha Mengetahui segala isi hati hambaNya, dan Allah benci orang yang sombong, gaes, sekecil apapun itu. 


Dari Abu Ma’mar, ia berkata, “Ada seorang pria berdiri memuji salah seorang gubernur. Miqdad [ibnul Aswad] lalu menyiramkan pasir ke wajahnya dan berkata,
أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن نحثي في وجوه المداحين التراب
“Kami diperintahkan oleh Rasulullah untuk menyiramkan pasir ke wajah orang-orang yang memuji.” (Shahih) Ash Shahihah (912), [Muslim: 53-Kitab Az Zuhd, hal. 68]

Dari Abu Bakrah, ia menceritakan bahwa ada seorang pria yang disebutkan di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang hadirin memuji orang tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda,
ويحك قطعت عنق صاحبك، (يقوله مراراً)، إن كان أحدكم مادحاً لا محالة، فليقل: أحسِبَ كذا وكذا- إن كان يرى أنه كذلك – وحسيبه الله، ولا يزكي على الله أحداً
“Celaka engkau, engkau telah memotong leher temanmu (berulang kali beliau mengucapkan perkataan itu). Jika salah seorang di antara kalian terpaksa/harus memuji, maka ucapkanlah, ”’Saya kira si fulan demikian kondisinya.” -Jika dia menganggapnya demikian-. Adapun yang mengetahui kondisi sebenarnya adalah Allah dan  janganlah mensucikan seorang di hadapan Allah.” (Shahih): [Bukhari: 52-Kitab Asy Syahadat, 16-Bab Idza Dzakaro Rojulun Rojulan]



Hadis di atas menunjukkan bahayanya sebuah pujian, sehingga orang yang memuji pun perlu disadarkan.
Jadi, Pujian itu sebenernya adalah ujian bagi kita, ujian keikhlasan dalam kebaikan. Seharusnya sebagai muslim dalam menebar kebaikan, dipuji atau dicela tuh bukan menjadi hal yang diperhitungkan ketika beramal karena kita melakukan itu semata-mata hanya mengharap ridho Allah. Adapun pujian yang datang, cukup ucapkan Alhamdulillah,  sesungguhnya segala puji hanya milik Allah.

Hidup ini memang tentang menata hati, bagaimana kita mengatur niat kita dalam beramal, jangan sampai kebaikan yang kita sampaikan menjadi rusak hanya karena terselip kesombongan di dalamnya. Saya sebagai penulis pun tidak luput dari sifat sombong ini. Maka dari itu kita sama-sama perlu meluruskan niat supaya ikhlas dalam beramal, salah satunya dengan cara jangan termakan pujian dari orang lain, segera melupakan kebaikan yang sudah dilakukan, karena orang yang memuji kita tidak tahu tentang diri kita kecuali apa yang terlihat saja, yang tahu isi hati kita, ya hanya diri kita sendiri. Dan yang paling utama adalah berharap balasan hanya dari Allah di akhirat kelak :). 




Referensi :
https://rumaysho.com/1993-bahaya-memuji-orang-lain-dan-gila-pujian.html 
http://www.pendidikanmu.com/2015/05/pengertian-takabur-dan-contohnya.html